Tuesday, Sep 02nd

Last update:04:58:26 PM GMT

You are here: Info Theologi RINGKASAN MATERI PELATIHAN PENGEMBANGAN DIRI

RINGKASAN MATERI PELATIHAN PENGEMBANGAN DIRI

E-mail Cetak PDF

Pelatihan ini dimaksudkan untuk mengajak jemaat mengotimalkan kemampuan diri dan menjadi yang terbaik yang bisa dilakukan. Dasar firman Tuhan : “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan” (Roma 12: 11), mengundang jemaat untuk hidup dengan semangat yang konsisten dalam mengejar kesempurnaan di tengah situasi yang penuh tantangan dan kesulitan.

Materi diawali dengan topik pengenalan diri. Di sini jemaat didorong untuk lebih mengenal diri sendiri sebagai umat ciptaan yang mulia dan berharga di mata Allah. Dengan pemahaman bahwa kita berharga di mata-Nya, maka kita akan merasa nyaman dengan diri sendiri. Kita mampu menerima “kekurangan”kita sebagai suatu keadaan yang dikehendaki-Nya yang pastilah baik dalam pemandangan-Nya. Secara psikologis, perasaan nyaman dengan diri sendiri dan kesanggupan menerima apa yang ada pada diri sendiri, adalah syarat sangat penting untuk bisa menikmati hidup. Dan karena kita percaya bahwa setiap hal yang kita rasakan dan alami adalah anugerah Allah, maka kita pun akan lebih mudah untuk mengucapkan syukur kepada-Nya. Bukan syukur artifisial, melainkan rasa syukur yang sungguh-sungguh meluap dari lubuk hati.

Kemampuan memandang diri sendiri juga akan menjauhkan kita dari cara pandang yang mengacu pada standar dunia belaka. Dengan kata lain, kita tidak “minder” karena keterbatasan yang kita miliki, tetapi juga tidak menyombongkan kelebihan kita. Kita semua belajar bahwa kita lahir dengan bekal talenta yang berbeda-beda. Lebih jauh, kita ditantang untuk mengembangkan kemampuan kita sampai tua sekalipun. Pengembangan diri tidak akan tercapai jika masih banyak shadow yang kita miliki. Malas, apatis, pesimistik, kurang percaya diri, atau terlalu percaya diri, mudah tersinggung, temperamental, dll sifat negatif, akan menjadi blocker internal yang menghalangi optimalisasi diri kita. Oleh sebab itu, kita perlu jujur dengan diri sendiri - terlebih di hadapan Tuhan - akan sikap hati dan sikap hidup yang tidak terpuji itu. Mengapa harus jujur? Karena hanya dengan kejujuran, kita bisa melangkah maju.

Oleh karena pengembangan diri yang optimal akhirnya ditujukan untuk kemuliaan Tuhan, untuk melayani Tuhan, untuk disaksikan kepada dunia, maka pelatihan ini juga mengajak jemaat untuk mengevaluasi cara dalam berkomunikasi dengan orang lain, baik di dalam keluarga maupun di gereja. “Apakah cara komunikasi saya membangun atau malah menjatuhkan sesama?”, “Apakah sumber gesekan yang selama ini terjadi adalah karakter orang lain, atau justru karakter saya sendiri?, merupakan pertanyaan yang perlu kita jawab dengan kejujuran.
Pada akhirnya, jemaat didorong untuk lebih damai menerima diri sendiri sekaligus lebih bersemangat dalam menjalani hidup. Karena dengan demikianlah kesaksian kita menjadi nyata di tengah lingkungan kita.


Kesan Peserta:

1. Saya bersyukur karena mendapat pencerahan tentang “siapa aku”
2. Saya lebih paham bahwa saya adalah pribadi yang berharga di mata Tuhan sehingga dapat memperkuat keyakinan dalam mengkah ke depan.
3. Sungguh seperti api yang dihidupkan
4. Sadar bahwa Tuhan memberi saya talenta tetapi belum saya kembangkan dengan baik
5. Menyadari adanya penghalang yang membuat buah Roh menjadi kurang maksimal
6. Saya sadar bahwa sebenarnya selama ini saya tidak tahu apa-apa
7. Saya sadar bahwa penghalang saya adalah luka batin yang berkepanjangan
8. Sangat sayang mengapa pelatihan ini baru dilaksanakan sekarang
9. Saya akan belajar untuk lebih lapang menghadapi hidup ini
10. Saya bisa lebih menenangkan suami saya
11. Dengan mengenal diri sendiri saya jadi lebih bisa mengendalikan ego saya
12. Saya bisa lebih mengasihi sesama
13. Saya belajar untuk tidak takut menghadapi kesendirian
14. Saya mau lebih mengandalkan Tuhan


Kesan saya sebagai fasilitator:
• Suasana belajar cukup hidup. Meskipun sangat jarang ada yang bertanya, namun setiap penugasan direspon dengan sungguh-sungguh oleh seluruh peserta.
• Kehadiran beberapa peserta “on-off” karena kesibukan. Akan tetapi segera setelah masuk ke ruang pelatihan, keterlibatannya pun menjadi penuh kembali.
• Usia peserta yang kebanyakan dewasa dan ada beberapa yang lansia, tidak menghalangi semangat untuk mengikuti setiap sesi yang ada.

Komentar Anda


Kode sekuriti
Refresh